August 20

setelah dua kali rencana bertemu tidak membuahkan hasil, kali ini dalam kepulangan saya ke jogja saya berharap bisa bertemu dengan dia. pertemuan dengannya merupakan yang pertama kali setelah lama, lupa kapan terakhir kali melihat dia.

janji bertemu di toko buku, saya sudah tiba di sana duluan. buku-buku yang dipajang tidak begitu menarik perhatian saya, tidak seperti biasanya. agak gelisah juga bolak balik ke sana ke mari menunggu datangnya teman satu ini.

akhirnya saat itu datang juga. sesosok perempuan datang dan berhenti di depan toko buku membuat saya menengok. dia tersenyum pada saya. apa karena pengunjung toko cuma sedikit atau dia entah bagaimana mengingat sosok saya hingga dia langsung bisa menebak kalau yang akan ditemuinya adalah saya. atau mungkin karena saya yang paling kelihatan lagi ga minat sama buku. entahlah. ga penting. yang penting adalah kedatangannya terasa seperti malaikat turun dari surga.

sosok yang saya lihat kali ini membuat ingatan saya langsung mencari dan mengumpulkan gambaran-gambaran yang saya miliki tentang dia. hanya sedikit tentu saja, mengingat bahwa kakak dialah yang menjadi teman saya. tubuh tinggi langsing dengan rambut yang terurai panjang warna coklat muda, berbeda dengan dulu. tentengan tas kecil yang dibawanya serasi dengan busana casual yang dikenakan.

dengan senyum ramah dia menyapa dan datang mendekat. tanpa menunggu saya langsung balik tersenyum menyambutnya, saya ulurkan tangan menjabat tangannya. segera kami menuju tempat makan di sebelah toko buku itu untuk makan siang. sambil duduk dia berkata “eh sama pake ijo”.. saya baru sadar kalo kaos yang kami kenakan warnanya sama, hijau. pertanda bukan yah?

kami berdua memesan lasagna dan lemon tea (hehe.. penting ga sih?)

percakapan ringan berjalan sembari menunggu pesanan datang. begitu enaknya percakapan mengalir, saya merasa nyaman berada di dekatnya. pada satu kali saya menanyakan apakah dia memakai kacamata dia menjawab tidak. lalu saat dia berkata bahwa warna matanya adalah hitam yang paling hitam, saya memperhatikan benar-benar ke kedua bola matanya. matanya indah banget, kesannya meneduhkan. the eyes that calm the storm.

makanan pun datang dan kami mulai makan. saus tomat, saus sambal, dan merica bertaburan di atas lasagna. “selamat makan, semoga tidak mengganggu program dietnya” katanya sembari mulai makan. saya tersenyum geli.

ada dua hal lagi yang saya perhatikan dari penampilannya. make up yang begitu natural dan bibir yang sensual. make up naturalnya menegaskan keindahan paras wajahnya sehingga menahan mata saya untuk tidak beranjak darinya. bibir indahnya seolah menjanjikan semua kenikmatan dunia bagi yang beruntung menjadi pasangannya.

me falling in love?